Saturday, October 19, 2013

Tengkorak Berusia 1,8 Juta Tahun Ditemukan

Tengkorak Berusia 1,8 Juta Tahun Ditemukan  
TEMPO.CO, Tbilisi - Ilmuwan Georgia pada Jumat, 18 Oktober 2013, mengungkap penemuan tengkorak berusia 1,8 juta tahun yang ditemukan di negara Kaukasus itu. Ia menyatakan, penemuan ini bisa memaksa evaluasi ulang teori-teori evolusi manusia.
Tengkorak --digali di kota abad pertengahan Dmanisi, sekitar 100 kilometer barat daya Tbilisi-- adalah tengkorak utuh pertama yang ditemukan dari periode itu. Empat sampel tengkorak lainnya ditemukan di situs itu, menunjukkan bahwa manusia purba merupakan satu spesies walau tampilannya berbeda. "Sampel Dmanisi disatukan dalam satu kelompok yang sebelumnya kami pikir teridentifikasi dari kelompok yang berbeda," kata David Lordkipanidze, direktur Museum Nasional Georgia.
Koleksi itu disebutnya merupakan koleksi hominid terkaya di dunia dari masa itu. Tengkorak, diberi nama Skull 5, memiliki set gigi yang hampir lengkap dan tampaknya lebih memanjang daripada tengkorak manusia normal. Fosil itu --sekitar sepertiga ukuran kepala manusia modern-- disimpan dalam kotak berlapis khusus dalam lemari besi museum.
Temuan ini telah dipublikasikan di jurnal Science yang terbit di Amerika Serikat pada Kamis lalu. Tengkorak itu merupakan hasil dari delapan tahun penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam dan luar negeri sejak penemuan tengkorak pertama pada 2005.
Tengkorak ditemukan tergeletak beberapa meter dari tempat tulang rahang yang ditemukan sebelumnya pada 2000. Para ilmuwan di balik penemuan itu menyatakan tengkorak berasal dari keturunan yang berbeda di Afrika -seperti Homo habilis dan Homo rudolfensis.
Namun tidak semua ahli setuju temuan ini bakal merevisi teori evolusi. "Saya berpikir bahwa kesimpulan mereka yang menarik itu menyesatkan," kata Bernard Wood, Direktur Program Doktor Program Paleobiologi di Universitas George Washington. "Apa yang mereka miliki adalah makhluk yang buktinya belum kita lihat sebelumnya."
SCIENCE DAILY | TRIP B

Wednesday, October 16, 2013

Situs Petirtaan Putri Majapahit di Semen Terlantar

Situs Petirtaan Putri Majapahit di Semen Terlantar
Laporan Wartawan Surya Didik Mashudi
TRIBUNNEWS.COM, KEDIRI - Situs peninggalan purbakala di Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur kondisinya masih memprihatinkan.
Batu peninggalan sejarah berikut pacahan arca dan gerabah, ditemukan terserak di areal persawahan.
Pantauan Surya, Rabu (16/10/2013), sisa tumpukan batu bata bekas saluran air pada masa kerajaan ditemukan terserak di sepanjang sungai. Demikian pula pecahan batu bekas candi, tercecer di area persawahan penduduk.
Situs purbakala di Semen, diyakini merupakan kawasan petirtaan atau pemandian para punggawa dan putri bangsawan. Lokasi itu, ditemukan saat terjadi banjir besar yang mengakibatkan tebing sungai ambrol.
Pada saat itulah ditemukan reruntuhan bekas bangunan kuno, berupa batu bata berukuran besar berikut sejumlah batu berukir dan pecahan ukiran arca. Warga kemudian mengumpulkan batu-batu tersebut.
Dari hasil pemeriksaan petugas dari BP3 Trowulan, semakin menguatkan situs Semen merupakan kawasan petirtaan peninggalan kerajaan. Sebagian reruntuhan batu bata bekas candi dan pecahan gerabah itu dikumpulan. Petugas telah memasang papan larangan mengambil dan merusak kawasan situs.
Hanya saja, upaya penggalian dan eskavasi situs Semen lebih jauh masih belum dilakukan. Lokasi bekas petirtaan itu kini banyak dimanfaatkan masyarakat yang ingin ngalap berkah dari keberadaan bangunan situs.
Abu Hasan (54), pemerhati situs Semen yang ditemui Surya, menyayangkan lambannya upaya pemerintah dan BP3 Trowulan dalam melestarikan dan memperbaiki situs Semen.
Karena sejak ditemukan sampai sekarang belum ada upaya pelestarian.
Masyarakat sendiri, kata Abu Hasan, sangat mendukung kalau pemerintah daerah membebaskan lahan untuk upaya pelestarian bangunan situs. "Kalau masalah ini terus dibiarkan, benda-benda peninggalan purbakala  bakal banyak yang hilang dan rusak," ungkapnya.
Selama ini, banyak warga yang memanfaatkan air sumber dari kawasan situs Semen untuk berbagai keperluan. Ada yang meyakini sumber air di petirtaan itu berkasiat magis sehingga dapat langsung dikonsumsi.

Tuesday, October 15, 2013

Konstruksi Berupa Candi Ditemukan di Lumajang

Konstruksi Berupa Candi Ditemukan di Lumajang  
TEMPO.CO, Lumajang - Konstruksi berupa susunan batu bata yang diduga merupakan sebuah bangunann candi ditemukan di Dusun Kedungsari, Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang,awa Timur.
Di lokasi tersebut juga ditemukan benda-benda purbakala lain, seperti ornamen berupa relief bergambar perwujudan Betari Durga berukuran 46 x 21 sentimeter. Selain itu, ditemukan juga ornamen berupa relief bergambar arca kuda berukuran 18 x 25 sentimeter, lengkap dengan pelananya. Ada juga relief bergambar genta berukuran 19 x 19 sentimeter.
Pemerhati sejarah dari Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT), Lutfiatri, mengatakan relief-relief tersebut diukir di atas bata bata merah. "Betari Durga dalam kepercayaan Hindu diyakini sebagai istri Betara Syiwa," kata lulusan Universitas Negeri Malang itu kepada Tempo, Selasa, 15 Oktober 2013.
Lutfiatri memperkirakan struktur bangunan candi tersebut dulunya merupakan tempat pemujaan yang terkait dengan Syiwa. "Letaknya berdekatan dengan aliran sungai, sekitar 100 meter," ujarnya.
Dari sisi letaknya yang dekat dengan aliran sungai, yang merupakan penunjang kegiatan pemujaan pada zaman dahulu, menurut Lutfiatri, semakin memperkuat dugaan bahwa struktur bangunan tersebut adalah candi.
Adapun Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang Gawar Sudarmanto mengatakan, lokasi penemuan bangunan yang diduga sebagai candi tersebut berada pada lahan milik masyarakat, yang disewa untuk industri batu bata. "Memang diduga merupakan bangunan candi," ucapnya ketika dimintai konformasi oleh Tempo, Selasa, 15 Oktober 2013.
Temuan bangunan yang diduga candi tersebut, kata Gawar, mirip dengan struktur pada Situs Biting. "Bedanya, ini lebih tebal," tutur dia.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang tekah melaporkan temuan tersebut kepada Balai Purbakala dan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. Dengan demikian, diharapkan segera dilakukan peninjauan, yang diikuti dengan penelitian secara arkeologi.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan, termasuk aparat kepolisian, untuk mengamankan lokasi penemuan. "Saat ini sudah dipasang garis polisi.”
DAVID PRIYASIDHARTA

Saturday, October 12, 2013

Alasan Trowulan Masuk Daftar Situs Terancam Dunia

Alasan Trowulan Masuk Daftar Situs Terancam DuniaTEMPO.COMojokerto--Trowulan termasuk situs yang terancam di dunia menurut World Monument Fund (WMF), Organisasi internasional yang bergerak di bidang pelestarian warisan budaya.
Pengusulan tersebut menurutnya jauh sebelum mencuatnya kontroversi rencana pendirian pabrik baja di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. "Kami usulkan karena masalah yang kompleks yang ada di Trowulan mulai dari ancaman lokal sampai upaya pelestarian oleh negara yang tidak efektif," katanya. Trowulan diyakini sebagai wilayah bekas kota Kerajaan Majapahit atau cikal bakal nusantara.
Selain Trowulan, dua warisan budaya di Indonesia lainnya juga masuk dalam daftar 67 situs yang terancam di dunia yakni kawasan perkampungan adat suku Batak di Peceren dan Dokan, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dan kawasan perkampungan adat di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Berbeda dengan Trowulan yang memang diajukan oleh badan pelestari warisan budaya seperti BPPI, dua kampung adat tersebut terdaftar berdasarkan penelitian peneliti yang dibiayai WMF.
Sejak didirikan 1996 dengan dukungan perusahaan jasa keuangan American Express, WMF telah menyelamatkan 740 situs di 133 negara. Selain advokasi, WMF bersama pendonor swasta dan lembaga pendukung lain juga memberi bantuan dana pelestarian. Selama 1996-2012, WMF telah memberikan kontribusi dana lebih dari US$90 juta untuk mendukung proyek di lebih dari 275 situs dan dana US$200 juta lainnya didapatkan dari berbagai pihak. WMF memiliki ajang WMW yang diselenggarakan tiap dua tahun sekali sebagai bagian dari kampanye penyelamatan warisan budaya di dunia.
ISHOMUDDIN

Wednesday, October 9, 2013

Laksamana Cheng Ho Menemukan Amerika Sebelum Columbus

Oleh Eric Pfeiffer


Peta tahun 1418 yang membuktikan bahwa Cina ditemukan Laksamana Ceng Ho

Apakah temuan peta Cina berusia 600 tahun dapat membuktikan bahwa Christopher Columbus bukanlah penjelajah pertama yang membuka navigasi Dunia Baru?
Dalam bukunya yang berjudul ‘Who Discovered America?’ yang diterbitkan Selasa lalu, penulis Gavin Menzies mengatakan bahwa pendudukan Amerika Utara oleh masyarakat pendatang lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.
“Cerita lama tentang Columbus menemukan Dunia Baru itu mutlak fantasi, hanya dongeng," kata Menzies (76 tahun) dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail.
Menzies mengatakan bahwa sebuah peta Cina buatan abad 18 telah ditemukan di sebuah toko buku. Peta ini diduga berisi salinan peta Cina buatan Laksamana Cheng Ho yang dibuat pada tahun 1418. Itu berarti upaya Cheng Ho sudah menemukan Amerika 70 tahun sebelum Columbus. Bahkan, Menzies mengatakan Columbus menggunakan salinan peta Cheng Ho untuk merencanakan perjalanannya sendiri.
Cheng Ho bisa dibilang seorang petualang Muslim paling terkenal dalam sejarah Cina. Mendapat titah dari kaisar, ia memimpin armada Cina pada penjelajahan yang membantu memperluas pengetahuan kekaisaran. Dia merambah wilayah di Timur Tengah dan Afrika yang sebelumnya tidak diketahui. Pengaruhnya terhadap budaya Asia begitu kuat, sampai-sampai ia masih dianggap sebagai dewa di sejumlah wilayah Indonesia.
Peta tahun 1418 yang membuktikan bahwa Cina ditemukan Laksamana Ceng Ho

Apakah temuan peta Cina berusia 600 tahun dapat membuktikan bahwa Christopher Columbus bukanlah penjelajah pertama yang membuka navigasi Dunia Baru?
Dalam bukunya yang berjudul ‘Who Discovered America?’ yang diterbitkan Selasa lalu, penulis Gavin Menzies mengatakan bahwa pendudukan Amerika Utara oleh masyarakat pendatang lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.
“Cerita lama tentang Columbus menemukan Dunia Baru itu mutlak fantasi, hanya dongeng," kata Menzies (76 tahun) dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail.
Menzies mengatakan bahwa sebuah peta Cina buatan abad 18 telah ditemukan di sebuah toko buku. Peta ini diduga berisi salinan peta Cina buatan Laksamana Cheng Ho yang dibuat pada tahun 1418. Itu berarti upaya Cheng Ho sudah menemukan Amerika 70 tahun sebelum Columbus. Bahkan, Menzies mengatakan Columbus menggunakan salinan peta Cheng Ho untuk merencanakan perjalanannya sendiri.
Cheng Ho bisa dibilang seorang petualang Muslim paling terkenal dalam sejarah Cina. Mendapat titah dari kaisar, ia memimpin armada Cina pada penjelajahan yang membantu memperluas pengetahuan kekaisaran. Dia merambah wilayah di Timur Tengah dan Afrika yang sebelumnya tidak diketahui. Pengaruhnya terhadap budaya Asia begitu kuat, sampai-sampai ia masih dianggap sebagai dewa di sejumlah wilayah Indonesia.



Thursday, October 3, 2013

Candi Baru di Pangonan Dieng

Seorang pegiat wisata mengamati sebuah candi yang baru ditemukan di puncak bukit Pangonan kawasan dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jateng, Kamis (3/10). Candi berukuran 1x1 meter yang diperkirakan dibangun abad ke-7 tersebut ditemukan oleh seorang warga yang tengah mencari lokasi untuk menyaksikan matahari terbit. ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Gunung Padang di Cianjur Siap Dikupas

Maket situs Gunung Padang (Foto: Tempo)

TEMPO.COBandung--Setelah diteliti dan dikaji selama 2 tahun lebih, Tim Terpadu Riset Mandiri (TRRM) kini siap mengupas Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tim akan meminta dukungan pemerintah provinsi Jawa Barat untuk meneruskan penelitian. Rencananya, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengundang tim untuk memaparkan hasil riset di Gedung Sate, Kamis, 3 Oktober 2013.
Salah seorang peneliti dari TRRM Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, situs bebatuan di Gunung Padang diduga kuat tak hanya berada di lapisan atas, melainkan hingga ke bawahnya. Dari puncak gunung tempat situs bebatuan kini berada, jaraknya mencapai sekitar 200 meter ke bawah, atau mencapai sungai dan persawahan penduduk.
Tim yang beranggotakan lebih dari 10 orang, diantaranya ahli geologi, geofisika, arkeologi, sejarah, dan arsitektur itu yakin gunung tersebut merupakan bangunan batuan besar yang dibentuk oleh tangan manusia. Alasannya, posisi batuan kekar tiang (columnar joints) itu tak sesuai dengan kondisi alaminya. Bebatuan kekar tiang (columnar joints) itu dari pengamatan tim dan hasil galian Balai Arkeologi Nasional sebelumnya, dalam posisi rebah sejajar dengan tanah. "Batuan kekar tiang itu alaminya tegak vertikal," ujar Danny saat ditemui Tempo di kantornya, Rabu, 2 Oktober 2013.
Sejauh ini, kata Danny, tim belum bisa memastikan, apakah batuan seperti balok-balok itu asli dari Gunung Padang atau dibawa dari daerah lain. Untuk memastikan lapisan batuan di bawah situs, tim perlu mengupas tanah yang menutupi. Lokasinya, kata Danny, direncanakan di lereng Gunung Padang sebelah timur. "Yang dibuka lebarnya 3 meter dengan panjang ke bawah 10 hingga 15 meter," kata peneliti di Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung itu. Adapun rencana berikutnya, tim akan membuka jalan masuk ke bagian tengah dalam gunung. Tujuannya untuk memastikan adanya lorong (tunnel) lava di bekas gunung api purba tersebut.
Dari hasil pencitraan dengan metode geolistrik dan georadar, serta carbon dating untuk mengukur usia lapisan tanah dengan cara pengeboran hingga 15 meter, tim sementara ini menyimpulkan situs Gunung Padang terdiri dari 4 lapisan. Lapisan teratas yang usianya lebih muda, berusia 2500-3000 tahun lalu. Pada lapisan berikutnya, usianya 6000-7000 tahun lalu. Pada setiap lapisan itu, ditengarai ada struktur bangunan dari tumpukan batu. "Pada riset awal saya, badan Gunung Padang itu tingkat erosinya relatif lebih rendah dibanding bukit atau gunung di sekitarnya. Padahal patahan Cimandiri tak jauh," ujarnya.
Sebenarnya, kata Danny, tim masih kekurangan separuh data survey seismik tomografi. Pengumpulan data itu terhenti setelah sekelompok orang melakukan tindakan anarkis kepada peneliti di lapangan. Mereka, kata Danny, minta survey tim dengan cara peledakan dihentikan. "Kami tak pakai bom, hanya peledak sebesar mouse yang ditanam satu meter dalam tanah dan tidak merusak situs," kata dia.
Kerja tim riset Gunung Padang itu disoroti sekelompok ahli dan peneliti lain yang tergabung dalam kelompok Petisi 34. Salah seorang anggota kelompok itu, Sujatmiko mengatakan, mereka menilai kerja Tim Terpadu Riset Mandiri tidak mengikuti kaidah berwawasan ilmuwan dan pelestarian, misalnya rencana penggalian besar-besaran oleh tenaga yang tidak terlatih. "Kelompok petisi tidak menolak penelitian situs Gunung Padang, tetapi merekomendasikan kepada pemerintah atau Presiden dan Kementerian terkait untuk menghentikan sementara dengan alasan tersebut," ujarnya.
Maksud dan tujuan petisi yang utama adalah untuk menyelamatkan kawasan situs Gunung Padang yang telah diakui sebagai bangunan megalitik terbesar di Asia Tenggara. Menurut Sujatmiko, situs itu seharusnya dilindungi secara sistematis dan terarah dari kemungkinan terjadinya kerusakan.
Kelompok Petisi 34 sendiri meyakini, Gunung Padang hanyalah sisa gunung api purba yang tersusun dari batuan beku andesit basalt berstruktur kekar tiang. Posisi batu tiangnya bisa horisontal, sub-horisontal, atau bahkan tegak, kata geolog gaek berusia 72 tahun itu, tergantung dari proses terjadinya batuan beku tersebut.
ANWAR SISWADI